Kategori
Berita Budaya Sosial

Gus Yahya Sepakat Pentingnya Kaderisasi Perempuan NU saat Menutup Kongres Fatayat NU di Sumsel

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya hadir menutup kongres organisasi perempuan atau Fatayat NU ke XVI di Palembang, Sumatera Selatan.

Pada kesempatan tersebut, beliau mengapresiasi kongres yang menunjukkan kekompakan yang sempurna di kalangan perempuan NU.

“Saya tahu ini adalah buah dari sukses konsolidasi di bawah kepemimpinan Fatayat sebelumnya, yaitu Sahabat Anggia Ermarini. Terima kasih atas khidmahnya. Semoga ini bukan akhir dari khidmah beliau sebagaimana yang dijalani oleh pendahulunya,” ujar Gus Yahya.

Gus Yahya juga mengaku lebih senang lagi menyimak pidato dari Margaret Aliyatul Maimunah, Ketua Umum Fatayat NU terpilih, yang menegaskan pentingnya kaderisasi.

Putra KH Cholil Bisri Rembang ini mengatakan tidak mungkin menjalankan agenda-agenda yang menjadi mandat dan tanggung jawab Nahdlatul ulama tanpa mengikutsertakan kepemimpinan perempuan.

Dalam kesempatan tersebut, Gus Yahya menegaskan bahwa PBNU telah membangun satu skema organisasi yang komprehensif dan integral mulai dari keseluruhan struktur kepengurusan Nahdlatul Ulama sampai dengan badan-badan otonom atau banom.

“Jadi, hierarki pelatihan kader ini akan menjadi nantinya akan menjadi tulang punggung dari sistem meritokrasi di dalam struktur organisasi. Nah, oleh karena itu saya sangat berharap kepengurusan atau jajaran Pimpinan Pusat Fatayat Nahdlatul Ulama ke depan ini sungguh-sungguh memperhatikan konsolidasi dalam hal pelatihan kader yang terstruktur,” harapnya.

Kategori
Berita Ekonomi

Garuda Indonesia di Ujung Tanduk, Bagaimana Nasib Investor?

Namun, sejauh ini perusahaan maskapai satu-satunya di dunia yang berhasil meraih penghargaan “The Worlds Best Cabin Crew” selama 5 kali gagal dalam upaya restrukturisasi. Kementerian BUMN memberikan opsi kepailitan terhadap garuda apabila proses restrukturisasi mentok atau tidak menemukan titik temu.Kepailitan menurut Undang-Undang Kepailitan No 37 tahun 2004 pasal 1 ayat 1 adalah sita umum atas semua kekayaan debitor pailit yang pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh kurator di bawah pengawasan hakim pengawas sebagaimana diatur dalam undang-undang ini. Ketika perusahaan dinyatakan pailit, maka saham perusahaan yang pernah menghuni LQ45  di Bursa Efek Indonesia (BEI) langsung disuspend, dampaknya investor tidak bisa menjual kepemilikan saham tersebut melalui BEI.  Padahal, saham yang beredar di pasaran (masyarakat) porsinya cukup besar, yaitu mencapai 27,98% dari total saham atau setara dengan 6,33 miliar lembar saham.

PT Garuda Indonesia Tbk merupakan maskapai kebanggaan dan terbesar di Indonesia yang bergerak di bidang penerbangan. Namun belakangan ini PT  Garuda Indonesia Tbk atau yang kerap disapa Garuda (GIAA) terancam gulung tikar. Hal ini terungkap karena Garuda terlilit hutang sebesar Rp70 Triliun. Beberapa upaya telah dilakukan mulai dari negosiasi dan lobbying kepaada para kreditur. Upaya penyelamatan tersebut dilakukan melalui jalur restrukturisasi hutang melalui pengadilan niaga dengaan tujuan mendapatkan keringanan berupa penundaan kewajiban pembayaran hutang (PKPU).

Tentu akan ada banyak pemegang saham yang dirugikan kalau Garuda berujung pailit. Apabila memungkinkan, penjualan kepemilikan saham bisa dilakukan di pasar nego, itupun kemungkinannya sangat kecil. Hal ini dilihat dari beberapa kasus perusahaan pailit, di pasar nego tidak ada bid atau offer, seperti kasusnya MYRX, BKSL, dll. Sehingga situasi ini sangat sulit bagi investor yang masih memiliki saham dengan kode GIAA (Garuda) untuk menjual kembali sahamnya melalui mekanisme bursa.

Oleh karena itu investor akan kembali berlaku sebagai pemegang saham tertutup. Jadi seandainya investor bermaksud menjual kepemilikan saham, maka masyarakat harus melihat opsi-opsi transaksi akan dilakukan di luar bursa. Para pemegang saham juga perlu benkonsultasi kepada konsultan hukum masing-masing khususnya untuk mencari kemungkinan atau opsi lain yang bisa diambil, misalnya apakah ada kemungkinan buyback yang dilakukan oleh pemegang saham mayoritas sesuai dengan UU Perseroan.

Ditambah lagi, UU Perseroan maupun UU Kepailitan tidak memprioritaskan pemegang saham mendapatkan pengambalian, karena diprioritaskaan pada debitur. Kecuali pada akhir pembayaran piutang atas aset-aset masih ada sisa, itupun kemungkinannya sangat kecil.

Foto Credit: Instagram Garuda Indonesia

 

Kategori
Ekonomi Esai

Jalur Sutra dan Jalur Santri

Oleh : Rahmat Hidayat Pulungan

RELASI ekonomi Tiongkok dan Indonesia berlangsung sejak berabad silam. Hal yang sama berlaku dengan para pedagang dari negeri lain. Hubungan dagang sekaligus penyebaran agama, budaya, dan keyakinan di Nusantara melibatkan para pedagang dari Jazirah Arab, Gujarat, India, sampai Eropa dan Tiongkok. Semua berlangsung masif di masa keemasan Jalur Sutra.Manan Ahmad Ashif (2016) mengutip Futuhul Buldan karya Al Baladzuri mengulas peran Jalur Sutra dalam penyebaran agama Islam yang disebutnya sebagai Arab Conquest, penaklukan Arab terhadap berbagai negara di dunia, termasuk di Nusantara. Sejak abad ke-7 hingga abad ke-9, pedagang dan pendakwah Islam melakukan asimilasi budaya hingga mengubah peradaban di semenanjung pantai di Jalur Sutra. Perjalanan itu diabadikan oleh Sulaiman At-Tajir dalam bukunya Akhbar Al-Shind wal Hind (815M), yang di antaranya menyebutkan intensifnya hubungan Arab dan Kerajaan Sriwijaya. Tak heran, kemudian berbagai kerajaan di Nusantara berubah menjadi Kesultanan Islami.

Hubungan intensif kerajaan di Nusantara dengan para pedagang Islam dari Arab, Gujarat, dan Champa berlangsung semasa dengan asimilasi kebudayaan Tiongkok, yang memunculkan perkampungan Tiongkok di berbagai daerah di Nusantara. Perkampungan itu biasanya disebut kawasan Pecinan atau kampungnya warga China (China Town). Hikayat raja-raja Pasai mencatat keberadaan Pecinan di Aceh, yakni di Peunayong, terbentuk sejak abad ke-13.Kehadiran komunitas Tionghoa di Nusantara semakin mapan setelah adanya ekspedisi Laksamana Cheng Ho (1409) yang tak hanya mengukuhkan hubungan dagang kerajaan di Nusantara dengan Kerajaan Tiongkok. Namun, juga mengukuhkan eksistensi dakwah Islam di Nusantara. Dari berbagai peristiwa bersejarah tersebut, dapat dilihat jalin-kelindan antara Tiongkok, Arab, dan Indonesia yang dirajut melalui perdagangan, dakwah keagamaan, dan asimilasi budaya.

Berperan Sebarkan Islam, Hugh Kennedy dalam The Great Arab Conquest (2007) mengungkapkan peran Jalur Sutra yang pernah menjadi pusat transportasi perdagangan dunia dalam ekspansi pedagang Tiongkok, Arab, dan Eropa di Nusantara sekaligus mendukung penyebaran Islam di berbagai belahan dunia, termasuk di Eropa dan Tiongkok. Menariknya, meski berjudul Penaklukan Arab, Hugh dalam pengantarnya menekankan perbedaan term Arab dan muslim.

Kategori
Berita Politik

Gus Yahya: Saya Hanya Ingin Mengabdi Membesarkan NU

Dukungan yang diberikan sejumlah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) untuk KH Yahya Cholil Staquf dalam pencalonannya sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kian solid. Dukungan penuh itu antara lain disampaikan oleh PWNU Lampung yang juga menjadi tuan rumah gelaran Muktamar ke-34 NU pada 23-25 Desember mendatang.

Gus Yahya, demikian Katib Aam PBNU ini biasa disapa, mengaku berterima kasih atas dukungan yang diberikan PWNU Lampung. Selain dari PWNU Lampung, dia mengungkapkan, sudah ada sekitar 80% pengurus NU di seluruh Indonesia yang telah menyatakan dukungan kepadanya.

Sebelumnya, PWNU yang menyatakan dukungan antara lain adalah Jawa Timur, Bengkulu, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Gorontalo dan Sulawesi Selatan.

“Saya sudah mendapat dukungan sekitar 80% pengurus NU dari berbagai provinsi, termasuk dari Lampung. Dukungan ini semakin memantapkan niat saya untuk mengabdi di NU yang lebih maksimal ke depan,” ujar Gus Yahya usai melihat kesiapan lokasi muktamar di Bandar Lampung, Senin (18/10/2021).

Pada Minggu (17/10/2021) malam, Gus Yahya juga menggelar silaturahmi dengan jajaran PWNU dan Pengurus Cabang NU (PCNU) se-Lampung di Resto Rumah Kayu Bandar Lampung.

Hadir dalam kesempatan tersebut antara lain Ketua Tanfidziah dan Katib Syuriah PWNU Lampung, ketua PCNU Kota Metro, Lampung Utara, Lampung Selatan, Mesuji, Pringsewu, Tanggamus, Waykanan, Tulang Bawang serta Sekretaris PCNU Tulang Bawang Barat.

Gus Yahya menyatakan, tekadnya maju dalam pencalonan ketua umum PBNU hanyalah didasari ingin mengabdi dan membesarkan NU. Hingga kini, dirinya pun sama sekali tidak memiliki keinginan menggunakan jabatan Ketua Umum PBNU ke depan untuk tujuan kepentingan politik praktis.

“Saya ingin bekerja hanya untuk NU, mengabdi kepada NU dan membesarkan NU,” tandas Gus Yahya.

Mantan Juru Bicara Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini pun menegaskan, keinginannya maju dalam pencalonan ketua umum PBNU bukan dilandasi untuk mengincar jabatan, batu loncatan dan lain sebagainya.

Dirinya hanya ingin terus membesarkan NU agar menjadi lebih baik berbekal pengalamannya selama ini sekaligus bertekad menguatkan marwah organisasi yang usianya hampir satu abad ini.

Kategori
Berita Politik

Gus Yahya: Nyaleg Saja Dilarang Gus Dur, Apalagi Nyapres

Katib Aam NU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menepis anggapan seolah dirinya ingin maju menjadi Ketua Umum PBNU agar bisa menjadi calon presiden pada 2024. Dia bahkan akan menerapkan kebijakan agar Ketua Umum PBNU ke depan tidak ikut terlibat dalam kontestasi pemilihan presiden dan wakil presiden. Hal ini agar ke depan NU dapat kembali berperan sebagai penyangga sistem bagi keutuhan NKRI.
“Nahdlatul Ulama harus kembali sebagai penyangga sistem. Bahaya politik identitas ini sulit dicegah karena para politisi instan pasti akan selalu mencari sumber daya instan untuk mendapatkan dukungan. Cara paling instan yang mudah didapat adalah dengan memainkan identitas, terutama agama. Ini bahaya,” papar Gus Yahya kepada tim Blak-blakan detik.com, Kamis (15/10/2021).

Nahdlatul Ulama, dia melanjutkan, sebetulnya punya potensi dan sudah puluhan tahun berpengalaman sebagai penyangga keutuhan NKRI. Ke depan NU harus memainkan lagi fungsi ini. Syaratnya, menurut pengasuh Pondok Pesantren Raudhatut Tholibin, Rembang, NU tidak boleh menjadi pihak di dalam sengketa politik agar fungsi sebagai penyangga bisa efektif.

“Tanpa itu, NU tak akan bisa lagi menengahi. Karena itu saya tidak ingin ada pola capres atau cawapres dari PBNU, supaya NU tidak menjadi pihak bila terjadi persoalan,” kata Gus Yahya.

Dia menegaskan dirinya tak punya obsesi menjadi Presiden. Andai ingin menjadi calon presiden sekalipun dia merasa tak perlu menjadi pengurus apalagi ketua umum PBNU. Sebab dirinya tahu bagaimana cara mengkapitalisasi manuver untuk mendapatkan perhatian publik. “Saya dulu itu mau nyalon jadi anggota DPR saja gak boleh sama Gus Dur, apalagi jadi Presiden ha-ha-ha,” seloroh putra sulung KH Cholil Bisri itu.

Dengan fokus menjadi ketua umum PBNU kelak, Gus Yahya cuma berharap semoga masih bisa masuk dalam janjinya Hadratussyeh KH. Hasyim Asy’ari, bahwa barang siapa mau ikut merawat NU dia kuanggap santriku, dan barang siapa menjadi santriku aku mendoakannya beserta seluruh keluarga dan keturunannya husnul khotimah.

Kategori
Berita Politik

Diplomasi Perdamaian Gus Yahya untuk Palestina

Jakarta, Tokohnasional.com – Tiga tahun lalu rakyat Indonesia dikejutkan dengan ulah seorang Kiai yang berani-beraninya melabrak musuh di dalam kandangnya. Kiai tersebut datang dengan diundang untuk berbicara dihadapan umat Yahudi dan pembesar-pembesarnya, bukan dalam forum seminar, melainkan forum Talk Show dimana forum tersebut dipandu oleh seorang host yang Bernama Rabbi David Rosen dan Kiai tersebut menjadi bintang tamunya. Dalam dialog tersebut, Gus Yahya menyinggung bahwa kita sebagai kaum Bergama seharusnya bertanya pada diri kita apakah fungsi Agama hanya sebagai sebuah alat untuk menjustifikasi suatu konflik dan apakah bisa Agama difungsikan untuk menjadi sumber inspirasi untuk memberikan solusi terhadap suatu konflik? Padahal selama ini kita selalu terlibat konflik untuk memperebutkan barang, sumber daya, kekusaan, dan lain sebagainya?

Dalam Pertanyaannya, Gus Yahya menggunakan kalimat “We people of religion” yang berarti “kita sebagai umat beragama” tanpa kita sadari ungkapan yang Gus Yahya sampaikan adalah sebuah pernyataan untuk menampar kaum Yahudi selaku umat beragama,  apakah selama ini cara mereka beragama sudah sesuai dengan ajaran Agamanya atau apakah fungsi Agama mereka hanya semata-mata untuk membuat konflik saja? Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama bahwa sedari dulu sampai saat ini umat Yahudi yang berada di naungan bendera Israel masih merawat konflik dengan negara Palestina dan dampak dari konflik tersebut banyak rakyat sipil yang menjadi korban dari ganasnya alutsista.

Tak hanya menampar, bahkan Gus Yahya menawarkan sebuah konsep “Rahmah” (kasih sayang) yang notabene berasal dari ajaran agama Islam yang disebarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Bahwa dapat kita akui, meluasnya pengikut ajaran Islam yang disebarkan oleh Nabi Muhammad SAW saat itu lantaran Nabi Muhammad SAW berdakwah dengan santun dan menerapkan konsep “Rahmah” kepada siapapun orang yang didakwahinya dan dimanapun Nabi Muhammad SAW berdakwah.

(Syd)