Kategori
Ekonomi Esai

Jalur Sutra dan Jalur Santri

Oleh : Rahmat Hidayat Pulungan

RELASI ekonomi Tiongkok dan Indonesia berlangsung sejak berabad silam. Hal yang sama berlaku dengan para pedagang dari negeri lain. Hubungan dagang sekaligus penyebaran agama, budaya, dan keyakinan di Nusantara melibatkan para pedagang dari Jazirah Arab, Gujarat, India, sampai Eropa dan Tiongkok. Semua berlangsung masif di masa keemasan Jalur Sutra.Manan Ahmad Ashif (2016) mengutip Futuhul Buldan karya Al Baladzuri mengulas peran Jalur Sutra dalam penyebaran agama Islam yang disebutnya sebagai Arab Conquest, penaklukan Arab terhadap berbagai negara di dunia, termasuk di Nusantara. Sejak abad ke-7 hingga abad ke-9, pedagang dan pendakwah Islam melakukan asimilasi budaya hingga mengubah peradaban di semenanjung pantai di Jalur Sutra. Perjalanan itu diabadikan oleh Sulaiman At-Tajir dalam bukunya Akhbar Al-Shind wal Hind (815M), yang di antaranya menyebutkan intensifnya hubungan Arab dan Kerajaan Sriwijaya. Tak heran, kemudian berbagai kerajaan di Nusantara berubah menjadi Kesultanan Islami.

Hubungan intensif kerajaan di Nusantara dengan para pedagang Islam dari Arab, Gujarat, dan Champa berlangsung semasa dengan asimilasi kebudayaan Tiongkok, yang memunculkan perkampungan Tiongkok di berbagai daerah di Nusantara. Perkampungan itu biasanya disebut kawasan Pecinan atau kampungnya warga China (China Town). Hikayat raja-raja Pasai mencatat keberadaan Pecinan di Aceh, yakni di Peunayong, terbentuk sejak abad ke-13.Kehadiran komunitas Tionghoa di Nusantara semakin mapan setelah adanya ekspedisi Laksamana Cheng Ho (1409) yang tak hanya mengukuhkan hubungan dagang kerajaan di Nusantara dengan Kerajaan Tiongkok. Namun, juga mengukuhkan eksistensi dakwah Islam di Nusantara. Dari berbagai peristiwa bersejarah tersebut, dapat dilihat jalin-kelindan antara Tiongkok, Arab, dan Indonesia yang dirajut melalui perdagangan, dakwah keagamaan, dan asimilasi budaya.

Berperan Sebarkan Islam, Hugh Kennedy dalam The Great Arab Conquest (2007) mengungkapkan peran Jalur Sutra yang pernah menjadi pusat transportasi perdagangan dunia dalam ekspansi pedagang Tiongkok, Arab, dan Eropa di Nusantara sekaligus mendukung penyebaran Islam di berbagai belahan dunia, termasuk di Eropa dan Tiongkok. Menariknya, meski berjudul Penaklukan Arab, Hugh dalam pengantarnya menekankan perbedaan term Arab dan muslim.