Kategori
Berita Politik

Gus Yahya: Saya Hanya Ingin Mengabdi Membesarkan NU

Dukungan yang diberikan sejumlah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) untuk KH Yahya Cholil Staquf dalam pencalonannya sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kian solid. Dukungan penuh itu antara lain disampaikan oleh PWNU Lampung yang juga menjadi tuan rumah gelaran Muktamar ke-34 NU pada 23-25 Desember mendatang.

Gus Yahya, demikian Katib Aam PBNU ini biasa disapa, mengaku berterima kasih atas dukungan yang diberikan PWNU Lampung. Selain dari PWNU Lampung, dia mengungkapkan, sudah ada sekitar 80% pengurus NU di seluruh Indonesia yang telah menyatakan dukungan kepadanya.

Sebelumnya, PWNU yang menyatakan dukungan antara lain adalah Jawa Timur, Bengkulu, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Gorontalo dan Sulawesi Selatan.

“Saya sudah mendapat dukungan sekitar 80% pengurus NU dari berbagai provinsi, termasuk dari Lampung. Dukungan ini semakin memantapkan niat saya untuk mengabdi di NU yang lebih maksimal ke depan,” ujar Gus Yahya usai melihat kesiapan lokasi muktamar di Bandar Lampung, Senin (18/10/2021).

Pada Minggu (17/10/2021) malam, Gus Yahya juga menggelar silaturahmi dengan jajaran PWNU dan Pengurus Cabang NU (PCNU) se-Lampung di Resto Rumah Kayu Bandar Lampung.

Hadir dalam kesempatan tersebut antara lain Ketua Tanfidziah dan Katib Syuriah PWNU Lampung, ketua PCNU Kota Metro, Lampung Utara, Lampung Selatan, Mesuji, Pringsewu, Tanggamus, Waykanan, Tulang Bawang serta Sekretaris PCNU Tulang Bawang Barat.

Gus Yahya menyatakan, tekadnya maju dalam pencalonan ketua umum PBNU hanyalah didasari ingin mengabdi dan membesarkan NU. Hingga kini, dirinya pun sama sekali tidak memiliki keinginan menggunakan jabatan Ketua Umum PBNU ke depan untuk tujuan kepentingan politik praktis.

“Saya ingin bekerja hanya untuk NU, mengabdi kepada NU dan membesarkan NU,” tandas Gus Yahya.

Mantan Juru Bicara Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini pun menegaskan, keinginannya maju dalam pencalonan ketua umum PBNU bukan dilandasi untuk mengincar jabatan, batu loncatan dan lain sebagainya.

Dirinya hanya ingin terus membesarkan NU agar menjadi lebih baik berbekal pengalamannya selama ini sekaligus bertekad menguatkan marwah organisasi yang usianya hampir satu abad ini.

Kategori
Berita Politik

Gus Yahya: Nyaleg Saja Dilarang Gus Dur, Apalagi Nyapres

Katib Aam NU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menepis anggapan seolah dirinya ingin maju menjadi Ketua Umum PBNU agar bisa menjadi calon presiden pada 2024. Dia bahkan akan menerapkan kebijakan agar Ketua Umum PBNU ke depan tidak ikut terlibat dalam kontestasi pemilihan presiden dan wakil presiden. Hal ini agar ke depan NU dapat kembali berperan sebagai penyangga sistem bagi keutuhan NKRI.
“Nahdlatul Ulama harus kembali sebagai penyangga sistem. Bahaya politik identitas ini sulit dicegah karena para politisi instan pasti akan selalu mencari sumber daya instan untuk mendapatkan dukungan. Cara paling instan yang mudah didapat adalah dengan memainkan identitas, terutama agama. Ini bahaya,” papar Gus Yahya kepada tim Blak-blakan detik.com, Kamis (15/10/2021).

Nahdlatul Ulama, dia melanjutkan, sebetulnya punya potensi dan sudah puluhan tahun berpengalaman sebagai penyangga keutuhan NKRI. Ke depan NU harus memainkan lagi fungsi ini. Syaratnya, menurut pengasuh Pondok Pesantren Raudhatut Tholibin, Rembang, NU tidak boleh menjadi pihak di dalam sengketa politik agar fungsi sebagai penyangga bisa efektif.

“Tanpa itu, NU tak akan bisa lagi menengahi. Karena itu saya tidak ingin ada pola capres atau cawapres dari PBNU, supaya NU tidak menjadi pihak bila terjadi persoalan,” kata Gus Yahya.

Dia menegaskan dirinya tak punya obsesi menjadi Presiden. Andai ingin menjadi calon presiden sekalipun dia merasa tak perlu menjadi pengurus apalagi ketua umum PBNU. Sebab dirinya tahu bagaimana cara mengkapitalisasi manuver untuk mendapatkan perhatian publik. “Saya dulu itu mau nyalon jadi anggota DPR saja gak boleh sama Gus Dur, apalagi jadi Presiden ha-ha-ha,” seloroh putra sulung KH Cholil Bisri itu.

Dengan fokus menjadi ketua umum PBNU kelak, Gus Yahya cuma berharap semoga masih bisa masuk dalam janjinya Hadratussyeh KH. Hasyim Asy’ari, bahwa barang siapa mau ikut merawat NU dia kuanggap santriku, dan barang siapa menjadi santriku aku mendoakannya beserta seluruh keluarga dan keturunannya husnul khotimah.

Kategori
Berita Politik

Diplomasi Perdamaian Gus Yahya untuk Palestina

Jakarta, Tokohnasional.com – Tiga tahun lalu rakyat Indonesia dikejutkan dengan ulah seorang Kiai yang berani-beraninya melabrak musuh di dalam kandangnya. Kiai tersebut datang dengan diundang untuk berbicara dihadapan umat Yahudi dan pembesar-pembesarnya, bukan dalam forum seminar, melainkan forum Talk Show dimana forum tersebut dipandu oleh seorang host yang Bernama Rabbi David Rosen dan Kiai tersebut menjadi bintang tamunya. Dalam dialog tersebut, Gus Yahya menyinggung bahwa kita sebagai kaum Bergama seharusnya bertanya pada diri kita apakah fungsi Agama hanya sebagai sebuah alat untuk menjustifikasi suatu konflik dan apakah bisa Agama difungsikan untuk menjadi sumber inspirasi untuk memberikan solusi terhadap suatu konflik? Padahal selama ini kita selalu terlibat konflik untuk memperebutkan barang, sumber daya, kekusaan, dan lain sebagainya?

Dalam Pertanyaannya, Gus Yahya menggunakan kalimat “We people of religion” yang berarti “kita sebagai umat beragama” tanpa kita sadari ungkapan yang Gus Yahya sampaikan adalah sebuah pernyataan untuk menampar kaum Yahudi selaku umat beragama,  apakah selama ini cara mereka beragama sudah sesuai dengan ajaran Agamanya atau apakah fungsi Agama mereka hanya semata-mata untuk membuat konflik saja? Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama bahwa sedari dulu sampai saat ini umat Yahudi yang berada di naungan bendera Israel masih merawat konflik dengan negara Palestina dan dampak dari konflik tersebut banyak rakyat sipil yang menjadi korban dari ganasnya alutsista.

Tak hanya menampar, bahkan Gus Yahya menawarkan sebuah konsep “Rahmah” (kasih sayang) yang notabene berasal dari ajaran agama Islam yang disebarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Bahwa dapat kita akui, meluasnya pengikut ajaran Islam yang disebarkan oleh Nabi Muhammad SAW saat itu lantaran Nabi Muhammad SAW berdakwah dengan santun dan menerapkan konsep “Rahmah” kepada siapapun orang yang didakwahinya dan dimanapun Nabi Muhammad SAW berdakwah.

(Syd)